Yang Terbaru

MENGENAL KELOMPOK dan TOKOH SESAT ( 6 )


“Aku mengenali kejelekan, bukan untuk berbuat jelek. Tapi agar aku bisa terhindar darinya.”
Penyimpangan-Penyimpangan Gerakan Ikhwanul Muslimin ( 1 )
Sekilas, dari sejarah singkat Hasan Al-Banna tampak jati diri gerakan yang didirikannya. Namun itu tidak cukup untuk mengungkap lebih gamblang. Untuk itu perlu kami nukilkan di sini beberapa kesimpulan yang didasari oleh komentar Al-Banna sendiri atau tokoh-tokoh gerakan ini atau simpatisannya.
1 Pertama: MENGGABUNGKAN KELOMPOK-KELOMPOK BID’AH
Tentu pembaca tahu, bahwa bid’ah tercela secara mutlak dalam agama:
Semua bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim, Kitabul Jum’ah, no. 2002)
Kata-kata ini senantiasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan dalam pembukaan khutbahnya.
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga katakan:
Allah melaknati orang yang melindungi bid’ah.” (HR. Muslim, Kitabul Adhahi, Bab Tahrim Adz-Dzabh Lighairillah, no. 5096)
Yakni ridha terhadapnya dan tidak mengingkarinya.
Dan banyak lagi hadits yang lain. Tapi anehnya, Al-Banna justru MENAUNGI kelompok-kelompok bid’ah sebagaimana dia sendiri ungkapkan:
“Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah salafiyyah… tarekat sunniyah… hakekat shufiyyah…dan badan politik…” (Majmu’ah Rasa`il, hal. 122)
Ini menggambarkan usaha untuk MENCAMPUR antara al-haq dan al-bathil. Dan ini adalah cara yang batil. Jika memang dakwahnya adalah salafiyyah yang sesungguhnya –dan itulah kebenaran– tidak mungkin dipadukan dengan shufiyyah dengan berbagai bid’ahnya dan praktek politik praktis yang diimpor dari Barat. Karena prinsip ini, maka realita membuktikan bahwa: “Ratusan ribu manusia telah bergabung dengan kelompok Ikhwanul Muslimin. Mereka dari kelompok yang bermacam-macam, paham yang berbeda-beda. Di antara mereka ada sekelompok Shufi yang menyangka bahwa kelompok ini adalah Shufi gaya baru…,” demikian ungkap Muhammad Quthub dalam bukunya Waqi’una Al-Mu’ashir (hal. 405).
Bahkan dengan kelompok SYI’AH-pun BERPELUKAN. Itu terbukti dengan usaha Al-Banna untuk MENYATUKAN antara Sunnah dengan Syi’ah, dan tak sedikit anggota gerakan yang beraliran Syi’ah. Umar At-Tilmisani, murid Al-Banna sekaligus pimpinan umum ketiga gerakan ini, mengungkapkan: “Pada tahun empat-puluhan seingat saya, As-Sayyid Al-Qummi, dan ia berpaham Syi’ah, singgah sebagai tamu Ikhwanul Muslimin di markas besarnya. Dan saat itu Al-Imam Asy-Syahid (Al-Banna) berusaha dengan serius untuk mendekatkan antar berbagai paham, sehingga musuh tidak menjadikan perpecahan paham sebagai celah, yang dari situ mereka robek-robek persatuan muslimin. Dan kami suatu hari bertanya kepadanya, sejauh mana perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah, maka ia pun melarang untuk masuk dalam permasalahan semacam ini… Kemudian mengatakan: ‘Ketahuilah bahwa SUNNAH dan SYI’AH adalah MUSLIMIN, kalimat La ilaha illallah Muhammad Rasulullah menyatukan mereka, dan inilah POKOK AQIDAH. Sunnah dan Syi’ah dalam hal itu sama dan SAMA-SAMA BERSIH. Adapun perbedaan antara keduanya adalah pada perkara-perkara yang mungkin bisa DIDEKATKAN.” (Dzikrayat la Mudzakkirat, karya At-Tilmisani, hal. 249~250)
Benarkah dua kelompok itu sama dan bersih dalam dua kalimat syahadat?
Tidakkah Al-Banna tahu, bahwa di antara kelompok Syi’ah ada yang menuhankan ‘Ali bin Abi Thalib?
Tidakkah dia tahu bahwa Syi’ah menuhankan imam-imam mereka, dengan menganggap mereka mengetahui perkara-perkara ghaib?
Tidakkah dia tahu bahwa di antara Syi’ah ada yang meyakini bahwa Malaikat Jibril keliru menyampaikan risalah –mestinya kepada Ali, bukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam –?!!
Seandainya hanya ini saja (penyimpangan) yang dimiliki Syi’ah, mungkinkah didekatkan antara keduanya? Lebih-lebih dengan segudang KEKAFIRAN dan BID’AH Syi’ah.
WhatsApp Manhajul Anbiya