Yang Terbaru

Kemuliaan Bulan Muharram dan Kemungkaran pada Tahun Baru Hijriyah

Kemuliaan Bulan Muharram dan Kemungkaran pada Tahun Baru Hijriyah


Kemuliaan Bulan Muharram

dan Peringatan dari Kemungkaran Seputar Tahun Baru Hijriyah

(diambil dari Khutbah Jum’at asy-Syaikh ‘Abdul Qadir bin Muhammad al-Junaid)

Khutbah Pertama:
Segala puji bagi Allah, Pencipta hari-hari dan bulan-bulan, Yang menjadikan fana tahun-tahun dan masa, yang menjadikan siang dan malam silih berganti, yang mengubah cuaca dari panas ke dingin dan sebaliknya, dari dingin ke panas, menjadikan hari-hari bergiliran di antara hamba-hamba-Nya sebagai pelajaran bagi orang yang memiliki akal dan pandangan yang jernih.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, al-Ghafuur (Maha Pengampun) asy-Syakuur (Maha Mensyukuri), yang tidak ada bagi-Nya tandingan, saingan, dan pembantu.
Aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, pemilik al-Maqam al-Mahmud dan Telaga yang akan didatangi (kelak pada hari Kiamat). Pemberi Syafaat dan diterima syafaatnya (dengan seizin-Nya). Yang senantiasa mengisi tahun demi tahun, bulan demi bulan dengan menghidupkan malam dan siangnya untuk ketaatan dan ibadah kepada Rabb  yang menciptakannya. Sehingga terampunilah semua dosa dan ketergelincirannya, lagi mencapai kedudukan yang tinggi dan kemuliaan yang melimpah.
Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, barokah baginya, keluarganya, dan para sahabat yang senatiasa taat kepadanya sepanjang tahun dan waktu, seiring pergantian malam dan siang.
Amma ba’du :
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian semua kepada Allah Jalla wa Ala dengan mentaati  perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya. Kejarlah cinta-Nya dengan memperbanyak amalan shalih serta bersegera dalam menunaikan ketaatan kepada-Nya. Berlindunglah di bawah (naungan-Nya) dengan menghinakan diri serta bersimpuh di hadapan-Nya dalam keadaan bertaubat dan memohon ampun atas segala dosa-dosamu, niscaya kalian akan mendapatkan maaf, ampunan, serta rahmat-Nya. Kalian akan sukses dengan memperoleh pahala dan berbagai kenikmatan di sisi-Nya dan kalian termasuk dari orang-orang yang beruntung dan kalian melihat hari-hari ini, bulan-bulan ini, tahun-tahun ini terus berlalu. Hari berganti hari, pekan disusul pekan berikutnya, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun (yang semuanya kita lalui) dalam keadaan kita benar-benar lalai dari mengingat Akhirat, persaingan ketat dalam mencari dunia serta lemah dalam persiapan untuk bertemu dengan Allah dan berinabahkepadanya, bermalas-malasan di dalam beramal shalih, dan mempersedikit amalan kebaikan. Justru kita memperbanyak amalan kejelekan yang membinasakan. Ingatlah kalian, akan keberadaan kita di ambang perpisahan dengan tahun (yang merupakan) sisa kehidupan kalian di dunia ini.
Barangsiapa yang mempersiapkan amalan shalih, menegakkan amalan-amalan ibadah, menunaikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban dan bermuamalah yang baik serta jauh dari syirik, bid’ah, ucapan dan perbuatan yang haram dan mungkar maka, kebaikan adalah kabar gembira baginya.
Barangsiapa yang lalai sehingga mengisi waktunya dengan banyak menyepelekan amalan-amalan ibadah, bermalas-malasan dalam menunaikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban, muamalah yang buruk, berlumuran dengan keysirikan, kebid’ahan, perbuatan-perbuatan yang haram dan mungkar, dan memperbanyak dosa
Wahai sekalian manusia,
bertakwalah kepada Allah dengan bergegas melaksanakan amalan-amalan shalih yang bisa menyelematkan (dari adzab-Nya), dan bersegeralah menjemput kebaikan yang bermanfaat bagimu. Begegas pulalah dalam baiknya beribadah dan muamalah. Perbaikilah umur yang dahulu kalian sia-siakan. Maka, jangan kalian rusak sisa yang ada ini dengan berbagai amalan kejelekan.
Diriwayatkan dari Ghunaim bin Qois rahimahullah bahwasannya beliau berkata :
Artinya : “Dahulu, pada awal datangnya Islam, kami saling mewasiati dengan 4 hal : beramallah di masa mudamu untuk masa tuamu, di waktu senggangmu untuk saat-saat sibukmu, di waktu sehatmu untuk kala sakitmu, di kala hidupmu untuk kematianmu”
Allah merahmati hamba yang benar-benar memanfaatkan masa muda dan kuat, waktu sehatnya dan waktu senggangnya, kemudian bersegera bertaubat dan berinabahkepadaNya sebelum dilipat (ditutup) kitab catatan amalnya, dan memperbanyak amalan ketaatan sebelum ajal menjemputnya, sebelum datang angan-angan kosong pada saat-saat dari kehidupannya, mengangankan untuk memperbaiki kekurangannya dalam memanfaatkan umurnya, atau menambah agar meningkat dalam kenikmatan. (Allah Ta’ala berfirman) :
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaknya seseorang melihat  apa yang telah ia persiapkan untuk menyongsong hari esok (Kiamat). Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat. Janganlah kalian seperti orang-orang yang melalaikan Allah, akhirnya Allahpun melalaikan mereka. Mereka adalah orang-orang fasik”
Wahai manusia, beberapa hari lagi kalian akan memasuki salah satu dari 4 bulan haram, yaitu bulan Allah, bulan Muharram, bulan yang dimuliakan dan diutamakan oleh AllahSubhanahu wa Ta’ala, sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandarkan bulan tersebut kepada Allah dan mengagungkan bulan tersebut. Maka dari itu, perbaikilah berbagai kealpaan yang telah berlalu dengan memperbanyak puasa di bulan tersebut. Sebuah hadits telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda :
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ
Artinya : “puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram”
Bahkan puasa pada hari kesepuluh bulan tersebut menghapuskan dosa-dosa yang diperbuat selama setahun penuh, sebagaimana di dalam hadits yang shahih, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :
وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya : “Puasa ‘Asyura (10 Muharram) aku berharap kepada Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya.”
Waspadalah kalian – semoga Allah menyelamatkan dan meluruskan jalan kalian – dari perbuatan zhalim terhadap diri kalian pada bulan Muharram tersebut dan 3 bulan haram lainnya, yaitu berupa amalan kejelekan, dosa, kemaksiatan, kesyirikan, kebid’ahan, kesesatan, kefasikan, perbuatan keji, kezhaliman, permusuhan, penipuan, berdusta, ghibah, namimah (adu domba), kedengkian dan hasad. Sesungguhnya Allah melarang kalian dari semua perbuatan tersebut.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya : “Sesungguhnya jumlah bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan, diantaranya adalah 4 bulan haram. Itulah agama yang lurus. Maka jangan kalian zhalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan tersebut”
Sesungguhnya amalan kejelekan baik berupa kebid’ahan ataupun kemaksiatan akan semakin besar dosanya jika dilakukan pada waktu dan tempat yang memiliki keutamaan di dalam syariat ini. Sebagaimana atsar yang sah dari Qatadah bin Di’amah rahimahullah , beliau berkata :

إِنَّ الظُّلْمَ فِي الشَّهْرِ الْحَرَامِ أَعْظَمُ خَطِيئَةً وَوِزْراً مِنَ الظُّلْمِ فِيمَا سِوَاهُ

Artinya : “Sesungguhnya kezhaliman yang dilakukan pada bulan haram lebih besar dosanya daripada yang dilakukan pada bulan-bulan selainnya ”
Berikut 3 pembahasan penting yang bagus dan bermanfaat, sepantasnya bagi seorang muslim –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya taufiq dan meluruskannya – untuk serius memperhatikannya, memahami hukumnya, dan dengannya dia bisa melihat realita yang ada di tengah-tengah manusia.

Pertama : Awal Diberlakukannya Kalender Hijriyah

Al-Imam Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin rahimahullahmenjelaskan :
“Kalender Tahunan belum diberlakukan ketika pada awal kedatangan Islam. Barulah dimulai di masa Khilafah ‘Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhuketika meluasnya wilayah kekuasaan Islam, dan kaum muslimin membutuhkan kalender untuk dalam urusan-urusan mereka. Maka pada tahun ketiga atau keempat masa pemerintahan beliau, datang sepucuk surat dari sahabat Abu Musa al-‘Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu.  Dia berkata dalam suratnya : “Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda yang tidak dibubuhi tanggal”.
Maka Khalifah Umar pun mengumpulkan para sahabat  kemudian bermusyawarah bersama mereka.
Sebaian mereka ada yang berkata : “Bubuhkanlah tanggal sebagaimana orang Persia ketika mengirim surat kepada raja mereka. Setiap kali pemimpin meninggal, mereka memperbaharui kalender dengan pemerintah yang setelahnya”, Namun para sahabat tidak menyukai pendapat tersebut.
Sebagian yang lain memberikan usul : “Pakai saja kalender kerajaan Romawi”, merekapun juga tidak menyukainya.
Sebagian lainnya berkata : “Mulailah penanggalan dengan hari kelahiran Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam
Yang lainnya menimpali : “Mulai dari hari diutusnya beliau
Lainnya berkata : “Sejak hari Hijrahnya beliau
Umar pun berkata : “Hijrah merupakan pemisah antara al-Haq dan al-Batil maka, mulailah penanggalan dari hari tersebut” mereka semua akhirnya sepakat dengan keputusan Umar tersebut.
Kemudian mereka memusyawarahkan bulan yang dijadikan permulaan tahun.
Ada yang berkata: “Mulai dari bulan Ramadhan saja, karena bulan tersebut adalah bulan diturunkannya Al Qur’an
Ada yang berkata : “(Mulailah) dari Rabi’ al-Awal karena bulan itu adalah waktu tibanya Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah pada perjalanan Hijrah (dari Makkah)
Umar, Utsman, dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum akhirnya memilih bulan Muharram karena itulah bulan Haram setelah Dzulhijjah bulan yang padanya kaum Muslimin menunaikan haji yang dengan menunaikannya (terwujudlah) sempurnalah rukun Islam. Di bulan Dzulhijjah pula berlangsungnya baiat kaum Anshar kepada Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dan bertekad untuk berhijrah. Maka, jadilah permulaan tahun Hijriyah Islamiyah di mulai dari bulan mulia Muharram.
Kedua : Beberapa Perkara Haram yang dilakukan manusia Menjelang atau Tibanya Tahun Baru Hijriyah
Di antara perkara-perkara haram tersebut adalah :
Perayaan di masjid-masjid, di rumah-rumah, di tempat-tempat peristirahatan/rekreasi/wisata, di jalan-jalan, atau tempat-tempat lainnya, dengan mengadakan peringatan Hijrah Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah.
Peringatan yang semacam ini tidaklah berjalan di atas sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan hal tersebut menentang dan menyelisihi (bimbingan beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam) karena tidak pernah sekalipun beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallammerayakannya, tidak pula mengajak, atau menghasung umat ini untuk merayakannya.
Peringatan tersebut juga tidak didasari bimbingan generasi Salafush Shalih yang hidup pada tiga abad utama – yang terdepan adalah para Shahabat radhiyallahu ‘anhum –karena mereka sendiri tidak merayakannya, tidak pula mengajak umat yang hidup di zaman mereka ataupun setelah mereka untuk merayakannya.
Peringatan tersebut juga tidak berjalan di atas bimbingan para ulama madzhab yang empat : Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad rahimahumullah tidak pula Ulama-ulama Islam terdahulu selain mereka, tidak pula mengikuti mereka, karena mereka tidak pernah memperingatinya, mengajak, menghasung siapapun untuk merayakannya.
Para Ulama yang berilmu tentang nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah menghukumi permasalahan sesuai dengan hakekatnya (yaitu peringatan tersebut adalah) bid’ah, dan bid’ah merupakan diantara perkara haram paling yang besar dan yang paling besar kejahatannya. Sebuah hadits yang telah sah dari Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memperingatkan dari kebid’ahan dalam khutbah-khutbah beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam :
 وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Artinya : “Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dalam syariat agama ini, dan semua bi’dah adalah sesat”
Begitu pula dalam sebuah hadits, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah perpisahannya :
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ 
Artinya : “Waspadalah kalian dari perkara yang diada-adakan dalam agama karena perkara yang diada-adakan tersebut adalah bid’ah, dan semua bid’ah adlah sesat”
Sebuah riwayat yang telah sah dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata :
وَإِنَّ شَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, أَلَا وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ, وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
Artinya : “Sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, ketahuilah bahwasannya perkara yang diada-adakan tersebut adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat dan semua kesesatan tempatnya adalah di an-Naar”
Tidak diragukan lagi bahwasannya semua hal yang tersifati dengan kejelekan, kesesatan, ancaman dengan an-Naar (nereka) merupakan perkara yang keliru, jelek, haram, dan mungkar.
Ketahuilah –mudah-mudahan Allah meluruskan kalian semua- bahwa peringatan semacam ini merupakan tasyabbuh (meniru) 2 kelompok manusia :
  1. Orang-orang kafir – apapun agamanya – di mana adat yang berlaku bagi mereka memperingati kejadian-kejadian, peristiwa di hari-hari tertentu, dan perubahan keadaan.
  2. Orang-orang sesat dan menyimpang semisal kelompok BatiniyahSyi’ah Rafidhah, dan yang setipe dengan mereka. Merekalah pencetus pertama adanya berbagai perayaan dan peringatan (yang tidak ada bimbingan dalam agama) di negeri Muslimin.
Seorang yang sangat Faqih bermadzhab Syafi’iy, sekaligus pakar sejarah yang berasa dari negeri Mesir, yang dikenal dengan al-Miqrizy menjelaskan dalam kitabnya “al-Khithath” :
Peringatan tahun baru Hijriyah merupakan salah satu dari serangkaian perayaan Daulah al-‘Ubaidiyah penganut agama Bathiniyah Isma’ilyah yang sejatinya adalah Syi’ah Rafidhah sekaligus Khawarij, yang berkuasa di negeri Maroko dan Mesir. Daulah ini melakukan berbagai kejahatan terhadap para ulama, para mu’adzin, para penduduk negeri tersebut yang tidak bisa digambarkan seperti pembunuhan, mutilasi (memotong-motong bagian anggota badan), menawan orang-orang perempuan, menjarah harta, merusak milik orang lain, menghancurkan dan membakarnya. Bahkan di antara para pembesarnya ada yang mengklaim derajat Rububiyah (yakni mengaku sebagai Tuhan). Di antara para pembesar tersebut ada yang terang-terangan mencela para Nabi dan para shahabat, bahkan memerintahkan untuk menuliskan celaan-celaan terhadap para sahabat di pintu-pintu masjid!! Adapula yang memerintahkan untuk membakar mushaf-mushaf dan masjid-masjid Ahlus Sunnah!!
Bahkan dijelaskan oleh Ahli Sejarahnya kaum muslimin, yaitu Syamsuddin adz-Dzahabi ad-Dimasyqiy asy-Syafi’iy rahimahullah di dalam kitab beliau “Siyar A’lamin Nubala” bahwasannya mereka membolak-balikkan Islam, menampakkan (aqidah) Rafidhah, menyembunyikan madzhab Isma’iliyyah (salah satu sekte bathiniyyah).
Dinukilkan dari al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliky rahimahullah, menjelaskan keadaan mereka :“Para Ulama negeri al-Qairawan sepakat bahwasannya keadaan Bani ‘Ubaid adalah dengan keadaan orang-orang murtad dan orang –orang zindiq.”
Tidak ada keraguan lagi bahwa meniru dua kelompok diatas merupakan kejelekan, kerugian serta kebinasaan bagi pelakunya. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ 
Artinya : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka, dia termasuk dari mereka (kaum tersebut).”
Seorang pecinta Sunnah dan mencintai Nabi umat ini Salallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia, menghormati beliau dan para shahabatnya serta menganggungkannya, AKANKAH DIA RELA MENJADIKAN kaum tersebut yang demikian perbuatan dan sepak terjangnya, yang demikian sejarah kejahatannya, sebagai SURI TAULADANNYA dan PANUTANNYA dalam mengada-adakan acara tersebut??!
Kami –walhamdulillah– dalam peringatan semacam ini dan selainnya, senantiasa bersuri tauladan kepada Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para Tabi’in dan generasi awal umat ini. MAKA KAMI PUN MENINGGALKAN DAN MENJAUHINYA SEBAGAIMANA MEREKA MENJAUHINYA dan TIDAK MELAKUKANNYA, dengan harapan kami termasuk dari mereka. Kami tidak akan meniru orang-orang kafir, tidak pula meniru orang-orang sesat dan menyimpang dari kalangan al-Bathiniyah al-Isma’ilyah ar-Rafidhah al-Khorijiyah.
Bagi siapa saja yang memiliki akal dan pikiran yang bersih, perlu diketahui bahwa peristiwa hijrahnya Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam TIDAKLAH TERJADI pada bulan Muharram, tidak pula di hari pertama bulan tersebut. Sebagaimana disebutkan oleh ahli sejarah, peristiwa hijrah tersebut terjadi pada bulan Rabi’ al-Awal.
Adapun apa yang dilakukan di kalangan shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu hanya sebatas penentuan tahun Islamiyah dengan tahun Hijrah, yaitu menjadikan peristiwa sebagai tahun pertama, bukan menentukan hari Hijrahnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan hari tersebut adalah hari pertama dalam setahun.
Perkara Haram lainnya :Pengkhususan hari Jumat terakhir di setiap tahun dengan tambahan amalan ibadah dan ketaatan. Begitupula pengkhususan dengan dipanjatkan doa tertentu yang biasa disebut dengan DO’A PENUTUP TAHUN atau DO’A PEMBUKAAN TAHUN. Do’a tersebut dipanjatkan pada sujud terakhir atau setelah ruku’ di shalat terakhir di penghujung tahun atau shalat pertama yang ditunaikan di Tahun Baru. Atau terkadang dipanjatkan di tempat-tempat diadakannya peringatan hari Hijrah NabiShalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dan disebarluaskan oleh orang-orang bodoh melalui SMS, WhatsApp, Facebook, e-mail, atau situs-situs internet.
Tidak diragukan lagi keharaman pengkhususan tersebut, karena pengkhususan itu tidak disebutkan sedikitpun tuntunannya baik dari Al-Quran maupun dari As-Sunnah an-Nabawiyah, tidak pula dilakukan oleh Salaf –utamanya para Sahabat radhiyallahu ‘anhum– tidak pula diajarkan oleh para Ulama Madzhab yang 4 atau para Ulama Ahli Fiqih dan Ahli Hadits lainnya di zaman mereka.
Jika amalan tersebut dicintai oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa sallam, atau baik bagi seorang muslim untuk melakukannya, atau dijanjikan ganjaran pahala baginya, niscaya mereka adalah orang-orang di baris terdepan dalam mengamalkan dan mendakwahkannya.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاغفر لنا ربنا وارحمنا واعف عنا وتجاوز، وأنت خير وأرحم الراحمين


Khutbah Kedua :
Segala puji bagi Allah yang mewajibkan nasehat dan teguran dalam ibadah dan muamalah serta memperingatkan dari penipuan dan pengkhianatan. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada junjungan Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam yang telah menyampaikan syariat Rabbnya secara sempurna kepada seluruh umat manusia, juga mengajak mereka untuk berpegang teguh dengan As-Sunnah dan memperingatkan dari kebid’ahan. Semoga shalawat juga tercurahkan kepada keluarga, para shahabat yang meniti jalan beliau Salallahu ‘alaihi wa sallam dan siapa saja yang mengikuti mereka semua di setiap keadaan, setiap perbuatan, setiap ucapan, dan setiap waktu sampai hari kebangkitan kelak.
 Amma ba’du
Wahai sekalian umat manusia, kita masih pada pembicaraan tentang beberapa perkara haram yang terjadi pada akhir tahun. Saya akan lanjutkan dengan memohon pertolongan dari Allah Ta’ala.

Ketiga : Seputar pesan yang disebarkan melalui SMS, WhatsApp, Facebook, e-mail, ataupun situs-situs internet semisal (Bersemangatlah untuk menutup lembaran akhir tahun anda dengan Istighfar, taubat, dan amalan shalih) atau yang kalimat-kalimat semacam ini.
Pesan-pesan semacam ini diharamkan bagi seorang Muslim untuk saling menukikan dan menyebarkannya kepada umat. Hal ini dikarenakan 3 perkara :
  1. Di dalamnya terdapat ajakan untuk mengkhususkan akhir tahun dengan ibadah tertentu. Pengkhususan akhir tahun dengan ibadah tertentu yang tidak ada bimbingannya di dalam Al Quran ataupun As Sunnah an Nabawiyah. Tidak pula didapati keterangan para Ulama untuk melakukannya. Maka berdasarkan hal ini, tindakan menyebarkannya merupakan BID’AH yang diharamkan, dan pesan semisal ini merupakan ajakan untuk menghidupkan bid’ah serta menyebarkannya ditengah-tengah umat.
  2. Ucapan tentang “Tertutupnya lembaran amalan di setiap akhir tahun”, maka orang yang mengucapkannya dituntut mendatangkan dalil dari Al-Quran ataupun As-Sunnah. Karena tertutupnya kitab catatan amal termasuk perkara ghaib, maka mana dalil atas ucapan tersebut sampai orang-orang termotivasi untuk bersegera dan bergegas di dalam menyebarkannya tanpa croschek, atau dikoreksi, tanpa ada muroqobah (merasa diawasi oleh Allah Ta’ala) dan rasa takut kepada Allah Jalla Jalaluhu. Kemudian, jika kalender Hijriyah ditetapkan di masa Khilafah Umar radhiyallahu ‘anhu, -wahai kalian orang-orang yang melihat- lalu kapan ditutupnya lembaran amalan hamba sebelum ditetapkannya kalender Hijriyah tersebut?
  3. Sudah menjadi ketetapan bagi para Ulama bahwasannya tertutupnya lembaran amalan hamba hanya ketika dia telah meninggal. Amalannya entah baik ataukah buruk akan terus tertulis sampai ajal menjemputnya.
Aku memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar menjauhkan diri saya dan kalian semua dari Syirik dan Bid’ah. Ya Allah berilah kami rizki untuk berpegang teguh dengan Tauhid dan Sunnah serta istiqomah di atas keduanya sampai akhir hayat. Sucikanlah lisan, pendengaran, dan badan kami dari berbagai hal yang mengundang kemurkaan-Mu. Lapangkanlah dada-dada kami untuk menerima as-Sunnah dan menitinya. Berikanlah keamanan di kendaraan, rumah, masjid, pekerjaan, safar-safar kami Ya Allah. Perbaikilah Pemerintah kami, keluarga dan anak-anak kami. Kokohkanlah kami di kehidupan dunia ini di atas ketaatan kepada-Mu dan di atas syahadat Laa ilaha illallah ketika maut menjemput, juga ketika alam di kubur ketika tatkala oleh Malaikat Munkar dan Nakir. Kokohkanlah kami di atasnya di hari Kiamat ketika melewati as-Shirath.
Ya Allah lembutkanlah hati kami sebelum dilembutkan oleh kematian, jadikan hati kamikhusyu’ terhadap dzikir kepadamu dan kebenaran yang Kau turunkan.
Ya Allah, angkatlah kejelekan dari kaum muslimin. Hilangkanlah peperangan dan pembunuhan dari mereka, cabutlah rasa takut dan kelaparan yang menimpa mereka. Jagalah mereka dari berbagai penyakit, serta lindungilah mereka dari berbagai fitnah baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Selesai dari Khutbah Jumat oleh Asy-Syaikh ‘Abdul Qodir bin Muhammad bin ‘Abdurrahman al-Junaid hafizhahullah.
http://www.manhajul-anbiya.net/kemuliaan-bulan-muharram-dan-kemungkaran-pada-tahun-baru-hijriyah/
•❁┈┈┈┈┈••••🍃🌹💐🌹🍂••••┈┈┈┈┈❁•

┏============✍🏻============┓
     📋BELAJAR MANHAJ SALAF📋
         ✿ Channel & Whatsapp ✿
┗============✍🏻============┛

📕❁ Berbagi Faedah Ilmu Syar'i sesuai  KITABULLOH wa SUNNAH
dalam meniti AL-HAQ ❁📌

http://telegram.me/belajarmanhajsalaf
http://bit.ly/belajarmanhajsalaf
🌐 Situs kami :
http://wa-bms.blogspot.co.id
http://assalafiyyat.blogspot.co.id
http://muslimahsalafiyat.blogspot.co.id
🌠•❁Dapatkan artikel-artikel terbaru ilmu Syar'i pada situs kami di atas,
semoga bermanfaat ❁•🌠

•❁┈┈┈┈┈••••🍃🌹💐🌹🍂••••┈┈┈┈┈❁•